Jaulah Cali

Oleh ans
Aug 17th 2008

Sekarang kami sekontinjen berada di Yosemite. Sebentar lagi, kami akan explore Yosemite National Park. Internet connection agak lembap, jadi tak dapat nak upload gambar.

Nantikan update seterusnya..

| Kategori Umum | Komen (1)

Solat Jumaat dalam musafir

Sedang saya membelek2 buku Reliance of Traveller tanpa fokus tertentu, saya terhenti seketika di bab Solat Jumaat. Mata saya tertumpu pada suatu topik yang sangat dekat dengan saya, yakni syarat solat Jumaat dalam keadaan bermusafir.

It is unlawful for someone (obliged to pray the Friday prayer) to travel after dawn(on Friday before having prayed it) unless:

(1) there is a place on his route where the Friday prayer will take place;

(2) or he is going to travel with a group (of people not obliged to pray the Friday prayer) who are departing, such that his staying behind would entail harm for him.

Fokus saya adalah travel after dawn. Tidak saya nafikan, kita seringkali mengambil mudah tentang keperluan untuk solat Jumaat, semata-mata kerana kita musafir. Kita rasa kita sudah penuhi syarat untuk melepaskan diri daripada kewajipan solat Jumaat dengan hanya bermusafir (musafir itu haruslah dengan tujuan yang baik). Tidak pula kita merujuk kepada syarat tambahan bahwa perjalanan tersebut mestilah bermula sebelum terbit fajar. Memang lumrah, kita hendakkan yang senang, tapi yang senang itu tidak selalunya yang paling baik untuk kita. Lagi-lagi kalau yang senang itu tidak bertepatan dengan syara’, maka sebenarnya ia mendatangkan mudarat yang lebih kepada kita.

Saya yakin ada pelbagai pendapat mengenai solat Jumaat. Bahkan ada juga pendapat yang jarang kita dengar mengenai solat Jumaat di luar waktu Zuhur, yang dipraktikkan di sini. Semuanya berdasarkan dalil-dalil yang kuat, insya-Allah. Jika saya tersilap faham, harap ada yang perbetulkan.

Wallahua’lam.

Ditulis oleh ans pada Jul 14th 2008 | Filed in Diskusi | Comments (1)

Hidayah itu milik Allah..

Baru semalam aku terdengar cerita dr imam di masjid..minggu ni sahaja dia telah membantu 3 org melafazkan kalimah syahadah. MasyaAllah. Gembira mendengar berita baik tu. Semoga 3 org saudara-saudara baru kita itu thabat di jalan yg telah mereka pilih dan semoga Allah membantu mereka menempuh hidup yg penuh dgn onak dan duri especially di US ni.

Lebih mengharukan lagi bile aku dgr sorg pompuan antara yg tiga org tu tutup kemas dgn hijab dan pakaian yg sesuai dgn pakaian seorg muslimah bila sampai ke masjid dimalam harinya. MasyaAllah. Begitu mudah Allah membuka hati manusia untuk terus mengamalkan ajaran Islam sebaik selepas melafaz syahadah.
Aku gembira tapi pada masa sedih.

Sedih kerana byk muslimah dikalangan kita yg bergelar Islam sejak lahir tetapi masih ada doubt dalam hati untuk mengamalkan apa yg telah digariskan Islam. Sayang seribu kali sayang. Bila ditanya mengapa tidak mahu memakai hijab atau menutup aurat dgn elok, jawapan yg diterima, itu adalah pilihan masing-masing. Iya hidup ini sentiasa penuh dgn pilihan. Dan dalam kes ini pilihannya samada untuk taat dgn perintah atau tidak? Dosa atau pahala?

Pilihan itu ditangan anda! Dan ketahuilah akibat dr pilihan yg anda pilih jua akan anda tanggung sendiri! Marilah kita mendalami lagi ilmu Islam dan bersama-sama cuba sedaya upaya mengamalkan semua yg telah digariskan dlm syariat, insyaAllah.

[256] Tidak ada paksaan dalam agama (Islam) kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut dan dia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. [257] Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman) dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli Neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah)

wallahu’alam.

Ditulis oleh lonsaa pada May 22nd 2008 | Filed in Umum | Comments (3)

Critical Aspects of Leadership in Islam

Ditulis oleh mat pada Apr 19th 2008 | Filed in Ulasan Buku, Umum | Comments (0)

Kemalangan

Buat pengetahuan pengunjung, database blog Ansarullah mengalami kemalangan. Hampir semua artikel dan komen sejak Oktober 2007 gagal diselamatkan.

Ditulis oleh mat pada Apr 15th 2008 | Filed in Umum | Comments (2)

Boundary between men and women

As far as I remember, when I first arrived in States, I was not terribly experienced culture shock. I could already expect how the culture is by watching movies and series in the television. What I did not exposed to is how the Muslims practice their religion here. In Malaysia, Friday Prayer could only be attended by men because there is no space for the women. In the States, I think I was shocked to see quite a big number of women at the back during the Friday prayer. They are not required to attend the prayer, but they did, and I applaud their effort on this very matter.

The issue that I am going to discuss here is not related to the right of women to attend the Friday prayer but related the boundary set to divide the line for the men and women. In my place, there is no boundary whatsoever that veils the women from the sight of men and vice versa. And as far as I concern, there is no issue raised concerning that. However, some mosques, as a matter of fact quite many mosques does have such boundary; some in form of curtain, some in barely-see-thru curtain, divided by solid wall, and others goes to extend of having the women to pray beyond a half solid wall, half glass, and built on the second floor - they could only see hear the khatib speaking and watch the khutbah in progress through webcam or etc.

Why is there separation? The proponents reason that they want to avoid disruption in prayer by having women directly behind them before, during and after prayer. The disruption goes both ways to both men and women. The important question is, does the prophet set veil between men and women during prayer? Prominent scholars in the documentary such as Abdullah Adhami and Tariq Suwaidan denies that. The disruption could still happen then but the cure is not by erecting a solid wall that inhibit the sight of women to directly see the khatib during the Friday Prayer. Women play many important roles during the time of the Prophet. They teach people, being the arbitrator in market, and we even heard stories about women who participate in war! There were certainly many interactions between men and women in their daily schedule, but the interactions were under control. Is it then, caused by our skewed mentality?

I am deeply taken aback by the passion shown by the women in the documentary who demand their right to have no boundary. They are happier, in a sense of performing ibadah, when there was no separation. I agree with the retort, is the guy who complains about how the presence of women at the back could disrupt their prayer, have the courage to admit that his faith is weak?

The issue, if we broaden our perspective, is not only limited to the right of women in the masjid, but goes beyond that. It’s funny that feminists always attack on issues such as polygamy but in this documentary, it is about the right to pray peacefully at the masjid! We could commonly attack on how feminists debate the issues but they did not even comprehend other aspects in Islam. In other word, are they sincere to debate for the sake of their deen, or is it for their own desire? Okay, not to elaborate further on that.

Now, the issue can also be related to gender relation confusion between men and women. I want to add some more to this, but it seems that I have to divert my focus on my homework now and without careful thought, the issues that I want to raise might not be worded correctly and cause unwarranted controversy. So, I’ll just stop here for now.

p/s : Silalah tonton video tsb di google, bagi saya, ianya adalah dokumentari yang unik, humorous in its way, dan thought provoking.

Wallahua’lam..

Ditulis oleh ans pada Mar 30th 2008 | Filed in Umum | Comments (4)

Antara MAS dan IMAN

Dalam buku Agenda To Change Our Condition, (ustad*) Hamza Yusuf mengingatkan kita akan imperatif (kepentingan) penglibatan masyarakat dengan memetik firman Allah Azza Wa Jall, Kuntum khaira ummah ukhrijat linnas (Kamu masyarakat yang terbaik yang telah diwujudkan untuk manusia).

Seterusnya beliau mengungkapkan hadis Baginda Rasulullah s.a.w., “Allah will continue to assist the servant, as long as the servant is assisting his brother.” Begitulah rahmat Allah memayungi kita bilamana wujudnya sikap tolong-menolong antara satu sama lain.

Dalam peradaban silam Islam, kegemilangannya sering dikaitkan dengan kota-kota tertentu. Dan begitu juga bila kita lihat sirah nabawi, Rasulullah s.a.w. dikaitkan dengan sebuah kota, seperti firman Allah, “Laa uqsimu bihazal balad. Wa anta hillun bihazal balad” (Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini).

Percambahan peradaban dan keilmuan Islam itu juga seringkali dikaitkan dengan sesebuah kota. Ustad Hamza Yusuf memberi contoh seperti Damsyik, Baghdad, Samarqand, Cordoba, Fez, Istanbul, Timbuktu dan lain-lain. Dan ingin aku tambah juga kota-kota Nusantara yang wajar beliau sebutkan seperti Pattani, Banjar dan Palembang.

Malah para ulama kita juga diberi gelaran berdasarkan kota di mana mereka berperanan. Umpamanya, guru tersohor al-Ghazali, Imam al-Juwayni itu diberi gelaran al-Haramayn. Tokoh hadis Ibn Hajar diberi gelaran al-Asqalani (kota Asqalan). Tokoh sufi Ibn Ataillah punyai title al-Iskandari (kota Iskandariah). Ulama nusantara pun begitu juga, seperti sheikh Daud al-Fattani (Pattani) dan sheikh Abdul Samad al-Falimbani (Palembang).

Maka bila direnungkan sejenak, timbul persoalan kenapa agaknya mereka perolehi gelaran berdasarkan bandar mereka? Jangkaan aku, antara sebabnya ialah besarnya peranan mereka memimpin masyarakat dan mencorak peradaban kota-kota tersebut. Hal ini membuktikan imperatif penglibatan dalam masyarakat. Ini antara legasi yang ditinggalkan para ulama dan awliya, waris Rasulullah s.a.w. dan para anbiya terdahulunya.

Penglibatan masyarakat ini menjadi perkara yang semakin penting dalam zaman pasca moden dan global ini. Kita sudah menjangkaui era kolonialisasi mahupun ancaman komunisme. Era pasca moden ini antara ciri-cirinya ialah kebenaran relatif, wacana existentialis dan kemajmukan budaya-identiti. Zaman ini merupakan zaman peralihan dan pendefinisian semula lanskap politik mengikut corak pelobian komponen-komponen masyarakat sivik (civil society). Ini, kata DS Anwar Ibrahim, Cak Nur dan lain-lain sepertinya, adalah realiti masyarakat madani.

Untuk memainkan peranan tersebut, di USA ini kita dapat lihat trend pembentukan “jemaah Islam” di bandar-bandar utamanya. Antara terawal dan terkenal ialah IMAN (Inner-city Muslim Action Network) di Chicago kendalian cendekiawan-aktivis Rami Nashashibi. Corak ini sedikit berbeza dengan cara yang kita sudah biasa kerana organisasi seperti IMAN berdiri dengan sendirinya sedangkan jemaah-jemaah ala Ikhwani seperti MISG dan MAS tidak terhad kepada bandar tertentu.

Pada awalnya aku lihat trend baru ni tak bagus. Selalu aku dan teman-teman MAS Youth Chicago persoalkan, kenapa mereka buat organisasi yang terhad kepada inner-city sahaja? Kenapa tak terimapakai sahaja modul-modul MAS Youth dan bergerak menggunakan platform MAS? MAS punyai cawangan seluruh USA, bahkan ada jaring hubungan dengan lain-lain jemaah sefikrah seluruh dunia. Dan kami perlukan banyak tenaga manusia untuk menjayakan deretan signature projects tahunan. IMAN seolah suatu ancaman kerana mereka merebut market-share yang sekian lama kami bolot.

Apa agaknya yang istimewa tentang IMAN ini hingga mendapat sambutan sangat positif? Kenapa MAS tak boleh lakukan perkara sama? Ya, ada apa dengan IMAN? Dan bukan IMAN sahaja. Bandar-bandar lain wujud badan seperti IMA juga. Misalnya, di Los Angeles wujud badan UMMA manakala Texas ada IANT. Di Dulles, berdekatan Washington D.C pula ada ADAMS.

Di Post-Muktamar nanti kita akan adakan lawatan ke ADAMS center. Apakah aku akan temui jawapan kepada persoalan di atas?

Jom ke Post-Muktamar!

Ditulis oleh mat pada Dec 18th 2007 | Filed in Umum | Comments (0)

Understanding vs Blindly Choose

Aiiii, letih betul aku tunggu nak dapatkan biasiswa untuk sambung belajar. Tension tul aku dengan sistem ni. Nak masuk kerja dengan U aku ni, kena tunggu 2 bulan, sebab nak transcript, nak dapatkan surat tawaran dari University of Queensland tunggu lagi 2 bulan, pastu kena pegi BTN lagi, ambil English test lagi, alaa lecehnya. Aku nasihatkan laa, bagi siapa-siapa yang nanti plan nak sambung belajar cam aku ni, kena faham laa procedure untuk dapatkan biasiswa ni, uhuh. Eh jap, kita kena faham ke pilih ek procedure ni. Kalau kita kata kena faham, maknanya kita kena terima je laa kan, tapi bila lalui, sama je rasa tension gak. Boleh gak kata kita pilih procedure ni, Eh!! betul ke pilih ni?? Boleh terima laa gak, sebab kita boleh je pilih ambil biasiswa lain gak kan, yang Universiti oversea ada, JPA pon ada (kalau study rajin2 boleh laa dapat), dan banyak je lagi. Apply direct kat KPT pon boleh gak, tak perlu ikut quota U aku ni yang tetiba je jadi 3 untuk tahun depan, ish ish.. tension.

Fikir-fikir pasal situasi ni, menarik gak kalau discuss pasal concept “Understanding vs. Blindly Choose”. Untuk memudahkan bila aku cakap pilih, ia bermaksud “Blindly Choose”. Dalam islam macam mana ek? Kita pilih masuk islam ke, atau kita memahami untuk masuk islam. Kalau kata kita pilih masuk islam, orang leh kata, “eh islam ni best laa, jom masuk.” atau “Ok, Christian, Judaism dan Islam, ini-mini-miny-mo kita tengok mana yang kena. Islam kena, jom masuk!!” Senang kan masuk cam tu. Kalau memahami ni, maybe lagi bagus lagi kot, ke tak?? Maybe orang akan kata “Emm… daripada kajian scientific Islam ni yang terbaik sekali, mari beramai2 masuk Islam.” Boleh kot agaknya. Sedap je aku main-main dengan perkataan kan.. hehe, padahal lebih kurang je. Tapi sebagai rakyat Malaysia yang “Cemerlang, Terbilang dan Gemilang”, adakah kita faham atau pilih atau “Sebab mak ayah aku Islam, pastu IC aku pon tulis Islam, jadi aku Islam laa.” Menarik betul kalau ada orang Malaysia cakap macam tu, pastu bangga dengan slogan Malaysia tu. Continue Reading »

Ditulis oleh pisces pada Dec 5th 2007 | Filed in Umum | Comments (0)

Bacaan imam..panjang mane yang ideal?

Lewat malam semalam, ataupun lebih tepat, awal pagi hari ini, seperti biasa saya pulang ke rumah setelah beberapa jam ber’mandi keringat’ di tempat kerja. Tapi, hari ini saya bertekad untuk memaksa diri saya untuk beriktikaf di masjid, setelah terlepas peluang dalam beberapa hari yang lepas dari sepuluh malam terakhir ini untuk beriktikaf kerana ada kerja rumah, exam dan sebagainya. Memandangkan hari ini adalah Sabtu, saya ketandusan alasan untuk tidak menggunakan peluang yang baik ini untuk mendekatkan diri dengan masjid.

Saya masuk ke ruangan masjid kira-kira pada jam 3 dengan membawa bersama saya senaskah al-Quran yang dihadiahkan oleh kakak saya sempena pemergian saya ke Amerika dua tahun yang silam dan juga buku karangan Karen Armstrong yang saya harapkan boleh menjadi santapan minda andainya saya mengantuk kelak. Saya masuk ke ruangan masjid dan sempat menyertai jemaah yang sudahpun berada pada rakaat kedua. Saya masih positif ketika itu. Saya masih positif yang panjang surah yang dibaca oleh imam dalam qiamullail di sini adalah memadai dan tidak terlalu membebankan saya dan ma’mum yang lain.

Selepas itu, ada sedikit rehat. Makan2 secara ringan, baca Quran dan sebagainya. Aktiviti bebaslah, pendeknya. Beberapa ketika selepas itu, pakcik yang lain pula yang mengimamkan solat. Saya amat mengenali pakcik ni. Kalau tak silap saya, beliau adalah hafiz. Kalau tak mencapai tahap hafiz pun, hampir hafiz la kot. Dalam fikiran saya, saya mesti bersedia untuk berdiri lama kali ini. Namun, lama bukan sebarangan lama. Ini lama sungguh! Hinggakan badan saya yang biasanya agak segar selepas bekerja terasa letih. Dalam hati seringkali terbisik bilakah beliau akan tamatkan bacaan. Tergambar di minda saat gembira bila akhirnya dapat rukuk nanti. Saya rasa pembaca sekalian dapat menggambarkan saat-saat sedemikian. Saat bilamana terdetik sedikit rasa tidak puas hati terhadap imam kerana membaca terlalu panjang dan seakan-akan mengabaikan ma’mum yang keletihan. Selesai saja solat itu, saya mengambil keputusan untuk bergerak pulang. Terlalu letih. Alasan saya; saya rasa saya boleh solat dengan lebih khusyu’ jika solat secara bersendirian. Terpulanglah kepada pembaca untuk menilai diri saya.. lemah iman kerana tak mampu bertahan lama dalam solat, ataupun bertindak bijak dengan memilih cara yang mungkin lebih baik bagi saya.

Kini masuklah kepada point saya. Bagaimanakah panjang surah yang ideal dalam situasi tersebut? Saya sudah melihat dalam situasi yang lain; contohnya kalau semasa solat Maghrib sebelum iftar makan makanan berat, wajarlah dipendekkan bacaan. Begitu juga dalam solat Jumaat. Perlu dipendekkan kerana mengambil kira golongan tua dan tidak mampu yang wajib datang solat bersama. Namun, dalam kes ini lain sedikit, menurut pandangan saya. Kerana pesertanya adalah dari golongan yang mempunyai motivasi yang kuat untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan beriktikaf di masjid. Pendek kata, peserta haruslah sudah dapat menjangka yang imam akan membaca Quran lebih panjang dari biasa. Bagaimana jika kerana bacaan imam yang terlalu panjang menyebabkan ma’mum bertindak solat secara bersendirian? Kalaulah saya menjadi imam, sudah tentu saya ingin mendapatkan bilangan ma’mum yang semaksima mungkin. Saya akan rasa sedih dan bersalah jikalau ada ma’mum yang melarikan diri kerana tidak larat berdiri disebabkan bacaan yang terlalu panjang dalam solat. Namun, pada masa yang sama juga, saya ingin memaksimakan pahala. Bacaan Quran dalam sembahyang berganda-ganda ganjarannya. Kalaulah pagi tadi, saya anggarkan mungkin imam tersebut berjaya menghabiskan satu juzuk dalam dua rakaat sembahyang. Bermakna..kira-kira 10 muka surat dalam satu rakaat. Terlalu panjang, hinggakan ada ma’mum yang lain merungut yang solat yang selesai dalam kira-kira 25 minit terasa bagaikan sejam lamanya. Dia turut keluar meninggalkan jemaah.

Sekian lontaran minda dari pengalaman cetek saya malam semalam.

Hidupkan malam Ramadhan sementara anda masih hidup.

Bagi ahli Ansarullah yang lain, hidupkan blog ini..jangan biarkan ia lesu kerana ber’puasa’ lama sangat…

Ditulis oleh ans pada Oct 6th 2007 | Filed in Umum | Comments (3)

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh..

Lame dah org tunggu aku submit entri baru…hari ni baru ade peluang aku submit entri ni…sampai ade yg kate aku bertapa dlm gua…huhu…tapi sebelum tue…aku just nak inform yg bermula malam ni, masuklah sudah fasa ke-3 Ramadhan…harap sume tak terlepas Qiam mencari ‘Layla’(bak kate Bro Faiz) yg penuh barakah…

Walaupon agak terlewat sebenar nyer entri ni…tapi aku rase takde salah nyer sebab bolah diaplikasikan dlm kehidupan seharian kite…bukan spesifik bulan Ramadhan jeh…Berkenaan dengan amalan khatam al-Quran dan solat sunat tarawikh di bulan Ramadhan…kite gi kepada amalan khatam al-Quran dulu…perkara ni aku sendiri sedar sebab aku pon dok gaduh2 nak khatamkan Quran bile masuk bulan Ramadhan…sampai laa ade sorg brother ni hanta emel kat aku…die kate ape gune nyer bace Quran kalu kite tak hayati…Quran diturunkan bukan sebagai buku bacaan semata2…tetapi sebagai petunjuk yg perlu dibaca, diteliti, difahami dan diaplikasikan…tapi takpe lah…at least bulan Ramadhan ni tingkat laa sket amalan walau sekadar baca…tapi lebih merugikan…sejurus abis Ramadhan…Quran ditinggalkan…nak pegang pon susah…sayangkan…seolah2 Ramadhan jeh bulan utk beribadat sepenuh hati..hari dan bulan lain camne?

Perkara yg sama dpt aku perhatikan dlm bab solat sunat tarawikh…kalu bulan Ramadhan ni laa waktu dimana masjid2 paling sesak dan penuh…time ni jugak laa kite tgk masjid meriah dgn macam2 aktiviti…tapi habis Ramadhan…tinggal imam ngan bilal jeh…kalu ade pon org lain, tinggal pakcik2 dan makcik2 yg dah pencen…dr segi beramal dibulan Ramadhan ni…memang aku tabik…sume tekun…tapi bile abis Ramadhan jeh…sume amalan yg dibuat dibulan Ramadhan ditinggalkan…kan rugi camtu…bile kite tanye apsal tak teruskan amalan yg dibuat dlm bulan Ramadhan aritu?…dgn selamber membalas, “syaitan dah dilepaskan”…wah…camtu jeh?…makne nyer bile dibulan Ramadhan jadi hamba Allah, bulan2 lain jadik hamba syaitan?…ish2..

marilah sesame kite sume muhasabah balik…dimane kedudukan kite skang ni…kalu nak dibayangkan nikmat dan bantuan yg Allah dah bagi kat kite…memang tak terbayar dgn amalan2 yg kite buat selama ni…tapi Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…kerap kali kite dimaafkan walau kite buat salah…sungguh kite tak tau macam mane nak  beribadat kepada Allah…mintak maaf laa kalu aku ade terkasar bahasa atau sarkastik…semoga yg baik dijadikan tauladan dan kelemahan dijadikan sempadan…wassalam

Ditulis oleh lonsaa pada Oct 2nd 2007 | Filed in Umum | Comments (0)

Next »